Anggota DPRD Asal PKS Berikan Catatan Untuk Perbaikan Pasar Bandar Lampung

0
471

IMG-20151001-WA0018Bandar Lampung – Kondisi sejumlah pasar di kota Bandar Lampung cukup memprihatinkan. Selain pembanguannya belum dilanjutkan, kondisinya tidak terurus dan terbengkalai. Seperti yang terlihat di pasar SMEP, galian tanah yang dulunya akan dijadikan pondasi untuk gedung pasar tradisonal kini berubah fungsi tempat warga dan pedagang pasar membuang sampah.

Begitu juga terlihat dipasar Panjang. kondisi Pasar Panjang yang jumlah kiosnya mencapai 300, 70% losnya berada dalam kondisi kosong tanpa penyewa. Kondisi ini dapat dikatakan seperti mati suri. Kondisi pasar di lantai 2 juga beralih fungsi menjadi sarang walet. Sejumlah tanaman liar merambat tumbuh di lantai dua dan tiga sejumlah kios. Belum lagi tumpukan sampah pedagang yang berserakan di sekitar lokasi pasar.

Hal serupa terlihat dipasar Kemiling, sebagian kondisi bangunan yang baru dibangun tidak dilanjutkan dan tidak memiliki atap.

Menanggapi kondisi beberapa pasar di Kota Bandar Lampung yang terbengkalai, anggota komisi II DPRD Bandar Lampung Grafieldy Mamesah mengapresiasi langkah Penjabat (Pj) Wali Kota Sulpakar yang menjanjikan pembenahan tata kelola pasar pedagang di sektor kebersihan di sejumlah pasar.

Mamesah memberikan beberapa catatan sebagai masukan bagi Dinas Pasar dalam pengelolaan pasar. Pertama agar Dinas Pasar selalu menjaga kebersihan pasar agar penjual dan pembeli nyaman bertransaksi. Pasar yang bersih dan nyaman otomatis akan ramai pembeli, dengan begitu potensi pendapatan asli daerah di Dinas Pasar pun bertambah.

Kedua, Dprd berharap ada koordinasi antara Dinas Kebersihan dan Pertamanan (Disbertam) dengan Dinas Pasar (DPP) dalam menangani sampah. Jangan sampai pasar sering terlihat kumuh, karena masalah pengangkutan dan pengelolaan sampah.

Ketiga, perlunya perbaikan kondisi bangunan pasar dengan segera. Jika kondisi bangunan pasar tradisional ditata dengan rapi dan tidak kumuh, maka sebenarnya pasar tradisional mampu untuk bersaing dengan pasar modern yang ada di Bandar Lampung.

Sebagai contoh, renovasi pasar SMEP sampai sekarang belum selesai, padahal pengembang sudah diberikan kesempatan kedua untuk menyelesaikan tugasnya. Semestinya pemerintah bisa mengawal terus proses renovasi tersebut, sehingga pembangunan tidak terbengkalai, semua pihak tidak dirugikan, baik itu pedagangnya maupun pembelinya.

“Saya berharap pemerintah bisa mengambil keputusan-keputusan terbaik dalam renovasi pasar ini, sehingga tidak berlarut-larut dalam masalah” kata Mamesah.

Keempat, perlunya kerjasama antara Dinas Pasar dan pedagang pasar. Setelah pasar ditata, dibersihkan, dirapihkan, maka pedagang pun punya kewajiban untuk menjaganya. Jangan semua dibebankan ke Dinas Pasar.

“Sama-sama menjaga, sehingga pasar jadi nyaman dan pembeli pun ramai berdatangan”, kata Mamesah.

Mamesah juga menjelaskan di pasar tradisional selain ketersediaan bahan pokok yang dibutuhkan pembeli itu lengkap dan mencukupi, harga belinya pun sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan harga di pasar modern atau waralaba yang sudah di banderol.

“Tinggal bagaimana para pedagang di pasar tradisional bisa menarik simpati para pembeli. Tentunya, itu bisa dilakukan dengan pelayanan yang baik dan ramah,” katanya.

Kelima, guna meningkatkan daya saing dengan pasar modern, sudah saatnya pemerintah memiliki rencana strategis dalam pengembangan pasar tradisional. Sejumlah permasalahan yang meliputi pasar tradisional menunjukan perlunya pengelolaan pasar yang dilakukan secara profesional.

Selama ini Dinas Pasar sepertinya hanya mengelola pasar apa adanya. Tak ada kreatifitas yang dikembangkan untuk memperbaiki manajemen pasar dan meningkatkan PAD.

Akibatnya, saat ini target PAD yang dibebankan ke Dinas Pasar terkesan stagnan. Bahkan dalam operasionalnya hanya mengandalkan dana dari APBD. Kedepannya pengelolaan keuangan di Dinas Pasar ini bisa mandiri dan menghidupi kebutuhannya sendiri. Apalagi di Bandar Lampung ini tercatat setidaknya ada 12 pasar tradisional yang pengelolaannya dibawah Dinas Pasar di Bandar Lampung. Yakni, Pasar Tamin, Pasar Tengah, Pasar Kangkung, Pasar Pasir Gintung, Pasar SMEP, Pasar Mambo, dan Pasar Tugu. Pasar Perumnas Way Halim, Pasar Bambu Kuning, Pasar Bawah Ramayana, Pasar Koga, dan Pasar Panjang.

 

LEAVE A REPLY