Ketika Selang Infus Ikut Dalam Sidang Paripurna

0
145

Saya tak mengenal beliau. Sama sekali tak mengenalnya. Bahkan bertemu saja belum pernah. Tapi mengapa saya sudi untuk menulis kisah ini? Karena bagi saya, sosok sepertinya tak akan pernah gugur, walau raga sudah terkubur.

Dulu kita mengenal bidadari setangguh Ustdzah Yoyoh Yusroh yang penuh kegigihan dalam mengemban amanah rakyat. Ia diakui bukan hanya oleh kader PKS saja, tapi sungguh. Saya yang saat itu belum banyak mengenal PKS terkesima dengan perjuangan beliau.

Dua hari lalu, beranda saya yang biasanya berisikan berita politik dan celotehan emak-emak olshoper kini dipenuhi tentang berita duka.

Awalnya saya biasa saja, bahkan bagi saya “ah, mungkin tokoh daerah setempat. Pikir saya demikian. Tapi ada yang menarik dari beberapa postingan yang muncul salah satunya yang berisikan

“Yang membuat saya nangis, saat paripurna. Meski dirawat di rumah sakit, kondisi sangat lemah, dengan selang infus yang masih terpasang ia tetap hadir paripurna. Sehingga, paripurna tetap berjalan”

4 tahun terakhir semenjak namanya terpilih di hati rakyat untuk mewakili masyarakat kabupaten Lampung Barat. Semua teman-temannya melihat kesungguhan almarhumah dalam mengemban amanah. Bahkan, mantan aktifis KAMMI Lampung angkatan pertama ini sosok yang amat sederhana. Ia tak segan-segan menanyakan tentang perkembangan infrastruktur daerahnya yang memang sudah menjadi kewajibannya di komisi 4.

Sejak muda, almarhumah memang seperti bola bekel. Gak pernah bisa diam jika ada yang mengganjal di tatanan masyarakat. Maka itu, ia bergabung di gerakana aksi mahasiswa untuk mengkritisi berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat.

Alumni Fisip Unila ini terkenal all out dalam berbagai kegiatan. Hingga ada beberapa kejadian saat ia turun membantu masyarakat di daerahnya bukan hanya sekedar memantau. Tapi ia turun untuk membantu duduk bersama bahkan kalau ada bagian yang repot, ia selalu menjadi ambil bagian walau harus duduk di lantai.

Tangannya selalu terbuka untuk siapapun yang membutuhkannya, otaknya selalu berfikir untuk melayani masyarakat yang telah mempercayainya. Bahkan, baginya dakwah dan ummat adalah nomor 1. Tak peduli tak ada kendaraan, ataupun medan Lampung Barat yang sebagiannya masih terisolasi. Almarhumah ustdzah Leni akan melangkahkan kakinya untuk berdakwah.

Alhamdulillah, saya berkersempatan untuk menghubungi suami almarhum ustdzah Leni, Bapak Abdurrohman. Beliau menuturkan bagaimana kegigihan istrinya semasa hidup. Bahkan, dengan suara yang lirih menahan tangis, ia berkisah kalau istri tercintanya tak pernah sedikit pun mengeluh dengan apa yang ia derita. Ustadzah Leni awalnya hanya menganggap penyakitnya hanya asam lambung biasa. Maka, ia tak pernah berkeluh kesah. Namun, ternyata Allah menyayanginya dengan memberikan ujian berupa tumor pangkreas stadium 4.

Sungguh, kali ini saya tak bisa menahan air mata saya yang memaksa keluar di sudut mata saat mendengar sehari sebelum meninggal, ia meminta suaminya untuk menemani Ustd. Akhmadi Sumaryanto dalam menjenguk salah satu konstituen yang akan mendapatkan bantuan kaki palsu. Padahal, ia sedang merasakan sakit yang amat parah dan malaikat maut telah bersiap menjemputnya ke sisi Ilahi. Tak sedikitpun ia tampakan manja kepada suaminya atau mengeluh.

Bagaimana dengan saya? Ya, saya yang begitu manja bahkan terkesan berlebihan. Sebagai seorang perempuan, entah malaikat apa yang hadir dalam diri almarhumah.

Dengan deraian air mata saya sudahi sedikit kisah ini. Dalam dekapan suami saya berkata lirih “mas, saya ingin seperti almarhumah. Tapi bisakah saya setegar mendiang ustdzah Leni?”

Allah, begitu cepat Engkau mengambil orang-orang baik dari kami. Entah bagaimana kelak akhir hidup kami. Dalam keadaan baik ataukah sebaliknya?

Jilbab pink yang saya gunakan pun basah dengan air mata saat saya menuliskan sedikit kisah ini. Kisah seorang mujahidah Parlement dari Partai Keadilan Sejahtera Lampung yang saya pun belum pernah sama sekali mengenalnya.

Ustadzah Leni, Engkaulah mujahidah titisan khadijah. Pewaris kelembutan Aisyah, wanita cerdas dan tangguh seperti Fatimah.

Kami mencintaimu, tapi Allah lebih mencintaimu.

Allahu yarham.

12 Desember 2018
Bandar Lampung

sumber:
https://web.facebook.com/ovi.sofwilwidad/posts/10216001176136631

LEAVE A REPLY