Detti Febrina, Komitmen Perjuangkan Hak Dasar Remaja

0
55

 

BANDARLAMPUNG — Tertawanya renyah bagai rengginang di kaleng Khong Guan. Itu pertama kali kesan yang tertangkap dari seorang Detti Febrina.

Kerenyahan tawanya itu seperti menjadi magnet yang membuat orang sekitarnya lupa dengan masalah hidup.

Perempuan yang lahir tepat peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 1977 ini kini dipercaya menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI daerah pemilihan Lampung 1.

Pengalaman panjang sebagai humas (public relation/PR) partai antara lain mengemas seseorang menjadi figur publik dan seabrek pekerjaan kehumasan, kini giliran nyali peraih beberapa kali penghargaan sebagai Humas Terbaik PKS ini diuji untuk keluar dari belakang layar.

“Agak janggal juga karena biasanya membranding orang lain kini mesti mengorbitkan diri sendiri. Ga enak air laut asin sendiri,” kata alumni Leadership Course Australia Award di Melbourne ini diiringi tawanya yang khas.

Namun tanggung jawab yang kadung diemban, justru memotivasinya untuk menjalankan peran lebih dari seorang PR. “Dicalegkan itu amanah dan perjuangan. Bismillah harus siap dan maju terus,” tutur perempuan yang menggeluti bidang media dan literasi ini.

Sejak masih duduk di bangku perkuliahan pun kini malang melintang di kancah politik nasional, Detti mengaku cenderung lebih banyak berinteraksi dengan kelompok muda.

“Anak muda adalah masa depan yang potensinya harus digali, diberi ruang tumbuh, dan berkarya. Jika tidak diarahkan, sebaliknya bisa menjurus destruktif,” kata satu-satunya delegasi perempuan Indonesia atas undangan Republik Rakyat China untuk Muslim Hui tahun lalu ini.

Menurut bungsu 3 bersaudara yang pernah loncat kelas saat SD Xaverius Pahoman ini, pemuda khususnya remaja ke depan akan menggantikan posisi para pemimpin masa kini.

“Di era 4.0, informasi apapun mudah sekali mereka serap. Kalau tidak dibentengi ketangguhan dalam keluarga, maka ke depan kita akan menghasilkan generasi miskin karakter,” ujar Ketua Departemen Riset dan Media Monitoring Humas DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Persoalan mendasar itu menyebabkan ia berpendapat bahwa anak muda layak diberi perhatian serius dalam proses pembuatan kebijakan maupun dalam penganggaran. Maka tak jarang, aktivitas Ibu beranak tiga ini memang kerap dikelilingi anak-anak muda.

Mulai dari komunitas fotografi, videografi, youtuber, penggerak sosial media, sampai komunitas penulis muda. Baginya, lewat komunitas tersebut, milenial dan Generasi Z bisa mendapat ruang ekspresi yang luas serta positif.

Ia antara lain menawarkan program yang akan memperjuangkan hak-hak anak serta remaja. Mulai dari hak mendapatkan pendidikan yang layak baik formal maupun informal, hak kesehatan, sampai hak mengaktualisasikan diri, dan kemudahan berpenghasilan.

“Dampaknya akan berpengaruh besar pada kebijakan misalnya pada penyediaan ruang-ruang publik untuk kaum muda, berlimpahnya workshop dan coaching clinic, atau kebijakan ramah investasi agar lapangan kerja terbuka luas,” urainya.

Dia juga mengingatkan fakta adanya bonus demografi bahwa di Indonesia saat ini jumlah generasi milenial dan generasi Z melampaui kuantitas generasi lainnya.

“Kalau kita tidak mengantisipasi, maka akan kewalahan mengatasi angka pengangguran maupun problem-problem sosial lain dari kalangan muda,” kata caleg perempuan dengan nomor urut 8 dari partai yang juga nomor 8.

Untuk itu, lanjut mantan jurnalis ini, menyiapkan generasi yang tangguh dan berkarakter perlu jadi perhatian berbagai elemen. Mulai dari pemerintah, lingkungan belajar, lingkungan tempat tinggal bahkan yang terpenting lingkungan keluarga.

“Keluarga harus jadi basis. PKS punya perhatian besar soal pengokohan keluarga, antara lain lewat program unggulan Rumah Keluarga Indonesia (RKI),” kata lagi.

Sudah saatnya mengembalikan peran dan fungsi keluarga dalam mengatasi sebagian problem generasi muda Indonesia ujar putri mantan Kepala Kejaksaan Negeri Bandar Lampung ini.

“Keluarga yang kokoh beriringan dengan kebijakan yang ramah untuk kaum muda, semoga bisa menghasilkan generasi tangguh dan berkarakter,” tutup aktivis literasi informasi yang menimba ilmu di Pascasarjana Ilmu Komunikasi FISIP Unila. (*)

LEAVE A REPLY