FPKS: Kita Lihat 100 Hari Komut Pertamina, Jika Makin Buruk Mundur Saja

0
149
Anggota Komisi VI DPR Fraksi PKS Nevi Zuairina (Humas Fraksi PKS DPR RI)
Anggota Komisi VI DPR Fraksi PKS Nevi Zuairina (Humas Fraksi PKS DPR RI)

Jakarta — Ditunjuknya Basuki Tjahaya Purnama atau kerap disapa Ahok sebagai komisaris utama Pertamina mendapat tanggapan dari Anggota Komisi VI DPR, Nevi Zuairina.

Banyak kalangan yang tidak setuju dengan keputusan penunjukan ini dengan berbagai alasan mulai dari latar belakang kasus yang dialami, track record dalam profesionalisme kerja hingga isu politik yang melatar belakangi.

Namun Politisi PKS ini menyarankan kepada pemerintah dan semua stakeholder agar memberi kesempatan kepada Ahok bekerja selama 100 hari, apakah ia berprestasi, standar saja atau malah bikin rusuh, hingga semua dapat menilai secara adil apakah yang bersangkutan dipertahankan atau diminta mundur.

“Ini kesempatan tidak akan datang dua kali buat Pak Ahok untuk membuktikan kemampuan menjadi Komisaris Utama Pertamina. Ketika perubahan itu ada, masyarakat akan dapat menerima, namun bila malah semakin buruk citra Pertamina, sebaiknya langkah mundur adalah yang tepat dilakukan,” ungkap Nevi Zuairina.

Legislator asal Dapil Sumatera Barat II ini mengatakan, bahwa industri migas Indonesia, pada tahun delapan puluhan pernah mengalami puncak kejayaannya yang dikelola oleh perusahaan pemerintah yakni Pertamina.

Sekitar dua puluh tahun setelah kemerdekaan, tepatnya sekitar tahun 1965, kebanggan Indonesia di sektor migas sangat membanggakan dengan masuknya Indonesia sejajar dengan negara pengekspor minyak dunia yang tergabung dalam wadah OPEC seperti Arab Saudi dan Qatar.

Namun pada tahun 2005, Indonesia seperti mengalami pembalikan arus sejarah industri minyak bumi dari eksportir menjadi net importir yang membuat Indonesia keluar dari organisasi bergengsi OPEC.

“Kita beri kesempatan pada Ahok untuk bekerja 100 hari untuk merealisasikan visinya membangun Pertamina seperti Petronas Malaysia. Petronas ini kan tahun 1974 baru berdiri dan langsung berguru dengan kita. Namun setelah 33 tahun tepatnya tahun 2007, petronas meninggalkan posisi Indonesia ke nomor 17 dunia, sedangkan Indonesia pada posisi 30 versi Petroleum Intelligent Weekly,” kutip Nevi

LEAVE A REPLY